Menyelami Jurnalistik

Sebagai mahasiswa yang mengemban pendidikan sarjana di program studi Ilmu Komunikasi, tentu sudah paham bahwasanya Ilmu Komunikasi sendiri merupakan induk dari beberapa ilmu turunannya seperti Jurnalistik, Public Relation (Hubungan Masyarakat), Komunikasi Pemasaran, Advertising (Periklanan), Penyiaran, Desain Komunikasi Visual, Performing Arts Communication, dan sebagainya. secara garis besar, pada program studi Ilmu Komunikasi kamu akan diajarkan mengenai bagaimana proses komunikasi atau penyampaian pesan bisa menjadi efektif dan dapat mencapai sasaran yang dituju. Ilmu Komunikasi yang dipelajari pun sangat luas, sebab dalam kehidupan sehari-hari pastinya kita tidak terlepas dari komunikasi. Jadi itulah gunanya peminatan, agar memiliki kemampuan yang lebih terfokus pada salah satu cabang Ilmu Komunikasi. 

Berbicara mengenai peminatan, jurnalistik merupakan salah satu ilmu turunan dari Ilmu Komunikasi seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya. Jurnalistik sendiri dapat diartikan sebagai segala bentuk kegiatan yang dilakukan dan sarana yang digunakan dalam mencari, memproses, dan menyusun berita serta ulasan mengenai berita hingga mencapai publik atau kelompok tertentu yang menaruh perhatian khusus pada hal-hal  tertentu. Dapat diartikan pula bahwa cakupan jurnalistik cukup luas juga, mengingat perkembangan zaman yang semakin pesat, maka media informasi berkembang pula.

Universitas Muhammadiyah Palangkaraya sebagai salah satu kampus yang memiliki program studi Ilmu Komunikasi, tentu menjadikan jurnalistik bagian dari mata kuliah wajib dalam proses perkuliahan. Hal itu pula yang menjadikan pihak kampus berfokus untuk mengembangkan skill dan kemampuan mahasiswanya pada bidang jurnalisitk, karena di era perkembangan media informasi yang semakin cepat diharapkan mahasiswa mampu menguasai produk-produk jurnalistik. Pada umumnya, produk jurnalistik dapat digolongkan menjadi tiga kelompok besar, yaitu: berita, non berita, dan foto jurnalistik. Adapun yang masuk dalam kelompok berita adalah berita lempang (straight news), berita bertafsir, berita berkedalaman, dan lain sebagainya. Untuk kelompok non berita terdiri atas artikel, feature, tajuk rencana, pojok, karikatur, dan surat pembaca. Sementara, foto jurnalistik terbagi menjadi foto berita dan foto human interest. Di masa sekarang,  internet dan ragam ‘image’ yang dihasilkan dimasukkan menjadi produk jurnalistik, khususnya produk “cyber journalistic”.

Beberapa waktu lalu Universitas Muhammadiyaha Palangkaraya, yang dalam hal ini Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik mengadakan pelatihan jurnalistik sebagai kuliah umum. Pelatihan ini dibawakan langsung oleh kepala biro antaranews Jawa Timur, Rahmat Hidayat yang sekaligus menjadi dosen Ilmu Komunikasi di Universirtas Muhammadiyah Palangkaraya. Pelatihan ini dimaksudkan agar mahasiswa menguasai bagaimana mencari, mengolah, menulis, dan menyebarluaskan informasi kepada publik melalui media massa secara akuntabel, agar mampu memahami kode etik jurnalistik, menerapkan Bahasa Indonesia, menggali ide berita dan teknik reportase wawancara, tehnik penulisan berita, mengimplementasikan penulisan berita, editing atau penyuntingan naskah, foto jurnalistik serta melakukan jurnalistik online. Sebagai tokoh yang kompeten dan berpengalaman dalam bidang tersebut, tentu Rahmat Hidayat sebagai pematei dapat memberikan pelatihan yang menarik kepada para mahasiswa.

Pelatihan yang berlangsung secara hybrid juga membuka mata para mahasiswa perihal kode etik jurnalistik yang mungkin tak banyak orang mengetahuinya. Kode etik sesungguhnya adalah petunjuk untuk menjaga mutu profesi sekaligus memelihara kepercayaan masyarakat terhadap profesi kewartawanan. Wartawan yang ingin dipandang harkat dan martabatnya sebagai jurnalis professional wajib menegakkan dan melaksanakan kode etiknya. Dapat dibayangkan apa yang akan terjadi manakala etik profesi ini diabaikan. Fenomena munculnya jurnalisme plintir, jurnalisme anarki, jurnalisme provokasi, jurnalisme preman, jurnalisme adu domba, jurnalisme seenaknya dan jurnalisme cabul, sadar atau tidak muncul karena lemahnya penghayatan dan kepatuhan sebagian wartawan terhadap etika profesi. Hal ini yang menjadikan pelatihan ini penting untuk mahasiswa, agar tidak menjadi oknum wartawan seperti itu. Mengingat untuk menjadi wartawan maka kita harus paham dan sadar akan kode etik tersebut untuk bisa membuat sebuah tulisan atau berita sebagai seorang jurnalistik..

Menanggapi perihal pelatihan jurnalisitik di kampus ini memanglah sangat penting adanya. Sedikit esensi dari pelatihan ini mahasiswa mampu memposisikan diri sebagai seorang sertawan independen di sekitara kampus, yang dimana seorang Jurnalis harus membuat dirinya sebagai pemantau independen dari kekuasaan. Dalam tugasnya memantau kekuasaan, bukan berarti wartawan harus menghancurkan kekuasaan. Namun wartawan bertugas sebagai pemantau kekuasaan, yaitu ikut menegakkan demokrasi. Salah satu cara wartawan memantau ini dengan melakukan investigatif reporting. Inilah yang sering menjadi masalah antarwartawan dengan penguasa. Ini yang sering memperbesar konflik antara wartawan dan penguasa. Biasanya banyak penguasa yang enggan privasi tentang dirinya dipublikasikan, sedangkan itu harus diketahui oleh rakyat. Dalam melakukan investigasi terhadap sebuah kasus, seharusnya media melakukan dengan hati-hati. Artinya, wartawan harus super teliti melakukan penelusuran narasumber dan fakta-fakta yang hendak ditulisnya. Hal itulah yang munkin bisa diterapkan setelah bekal yang didapatkan dari pelatihan ini sudah cukup.

Kegiatan pelatihan ini juga mempersiapkan dan mempersiapkan mahasiswa sebagai lulusan yang unggul dibidang kejurnalistikan. Persaingan yang semakin ketat antar freshgraduate, memaksa mahasiswa untuk meningkatkan skil yang dimiliki terlebih dibidang jurnalistik ini. Maka dengan adanya pelatihan ini, mahasiswa bisa menjadi selangkah lebih maju untuk bisa mendalam dunia jurnalistik.

Pada penghujung tulisan ini, kita semua berharap pelatihan dan kuliah umum ini bisa dilaksanakan secara rutin atau berkala. Menjadi hal yang sangat penting bisa diadakannya pelatihan yang narasumber atau pematerinya tokoh penting disebuah salah satu portal berita terbesar di Indonesia. Walaupun dengan segala kekurangannya dalam penyelenggaraannya, penyelenggaraan secara hybrid ini dirasa masih kurang maksimal karena visual dan audio yang ditampilkan dalam zoom conference kurang jernih, sehingga peserta atau mahasiswa yang mengikuti secara daring kurang begitu sampai materi yang disampaikan. Beruntung teruntuk mahasiswa yang terpilih sebagai peserta secara luring sehingga bisa bertatap muka dengan pemateri. Pelatihan jurnalistik ini bisa menjadi langkah yang bagus untuk membuka peluang pelatihan-pelatihan yang lainnya, seperti  pelatihan MC, sebagai seorang penyiar atau bagaimana menjadi seorang Public speaker yang baik. Maka mahasiswa semakin banyak dibekali dengan pelatihan-pelatihan yang sesuai dengan ilmu turunan dari Ilmu Komunikasi yang sebelumnya sudah disinggung pada awal kalimat tadi.

Sebagai orang yang akan memegang gelar S.Ikom, marilah kira bekali diri dengan skill yang mumpuni pada bidang Ilmu Komunikasi ini, sehingga pada dunia kerja kita mampu bersaing secara profesional dan bisa kompeten pada bidang tersebut.

-rum

Komentar